CERITA DI BALIK KANCING

     Kancing bisa menjadi simbol status kaum bangsawan. Terbuat dari tanduk domba, kayu, kulit, penyu, sampai logam mulia. Bahkan pada adi busana, harga kancing bisa lebih mahal dari pada harga bahan.

     Kancing bukan benda yang asing lagi bagi kita, karena bisa jadi benda ini selalu ada di pakaian yang kita kenakan setiap hari. Mungkin lebih dari 50% koleksi busana kita memiliki kancing dengan bentuk dan warna yang bermacam-macam. Bagi sebagian orang, terutama dari fashion society, kancing selain mewakili gaya dan selera, juga sebagai status simbol.
     Bicara soal kancing, kita bisa menengok kejadian pada abad XIV di Dorset, yaitu suatu daerah di Inggris. Kota yang menjadi pusat peternakan domba ini berkembang pesat, dan jumlah tenaga kerja sebagai penggembala pun terus bertambah. Di setiap musim dingin para penggembala ini memerlukan baju-baju tebal untuk melindungi mereka dari udara dingin. Baju tersebut dibuat praktis dengan kancing-kancing yang mudah dilepas. Kancing untuk baju-baju tersebut terbuat dari tanduk domba yang banyak tersedia di Dorset. Akhirnya banyak wanita dan anak-anakterlibat pembuatan kancing dari tanduk domba ini. Produksi mereka semakin lama semakin terkenal dengan sebutan Dorset Knobs. Kancing-kancing yang mereka produksi selanjutnya dibuat dengan berbagai macam gaya. Mereka memberi nama kancing-kancing tersebut antara lain Bird's eyes, Crosswheels, dan Spangles.
     Sejauh ini kancing tidak hanya terbuat dari tanduk, gading, atau plastik. Kancing juga ada yang terbuat dari batu, porselen, kulit penyu, kanton, sayap kupu-kupu, bulu burung, permata, logam dan lain-lain. Di Peru dan Equador ada kancing yang terbuat dari sejenis kacang yang bernama Tagua, kacang dari jenis tumbuhan parasit yang tumbuh di pohon palem. Kacang ini dikeringkan kemudian diukir dan digosok sampai seperti gading.
     Banyak juga cerita menarik mengenai kancing, antara lain ketika terjadi perang sipil di Amerika. Saat terjadi pertempuran di daerah Falmouth, Virginia, pertempuran ini diakhiri dengan gencatan senjata dan saling tukar-menukar kancing dari baju seragam kedua laskar.
     Di Inggris, saat konfrontasi antara orang Inggris dan Skotlandia, ada seorang serdadu yang terkenal hebat bernama Bluidy Clavers. Namun ia dapat dikalahkan oleh seorang serdadu Skotlandia yang cerdik. Ia menaklukkan Clavers dengan peluru yang disamarkan ke bentuk kancing. Ada juga seorang petarung, George Frederick Handel, yang bertarung hebat satu lawan satu dengan seorang jago pedang. Suatu ketika si jago pedang menusukkan pedangnya sekuat tenaga ke tubuh Handel, namun ujung pedang tersebut menusuk kancing logam Handel hingga terpental jauh. Handel pun selamat.
     Ratu Elizabeth I, senang melebur bahan-bahan logam untuk dibuat menjadi kancing berbentuk buah-buahan, ikan, burung, dan binatang-binatng lain. Kalangan ningrat di Eropa juga senang memakai baju dengan kancing-kancing yang mewah, apalagi jika baju tersebut akan dipakai untuk potert diri. Bangsawan The Comte d'artois mengenakan baju yang berkancing berlian, dan setiap kancing dikelilingi jam-jam kecil. Clarence Mackay, seorang milioner, kancingnya terbuat dari kulit penyu yang ditaburi permata, dirancang oleh Cartier.
     Bangsawan-bangsawan China memakai kancing-kancing emas sebagai simbol status mereka. Di New York's Metropolitan Museum of Art bisa ditemukan sebuah koleksi kancing yang eksklusif. Koleksi ini disumbangkan oleh seorang kolektor sekitar 40 tahun yang lalu. Karena koleksi ini sangat berharga, setiap pengunjung yang ingin melihatnya harus membuat perjanjian dulu beberapa hari sebelumnya.
     Dulu banyak orang yannga memakai jubah-jubah besar yang menutupi tubuh. Ketika itu kebutuhan akan kancing tidak begitu besar. Kebutuhan dan permintaan akan kancing datang saat baju dibuat mengikuti bentuk tubuh, mementingkan kepraktisan, dan mengikatkan baju lebih erat ke tubuh.
     Sekarang ini fungsi kancing lebih banyak lagi. Kancing tidak hanya mengikat busana tapi juga jadi media kreasi dan media simbol merek bergengsi. Nama-nama seperti Chanel, Rocco Barocco, Cartier, Hermes, atau Calvin Klein selalu meletakkan logo mereka di atas kancing. Lain lagi bagi perancang houte couture. Mereka menganggap kancing merupakan sentuhan akhir yang harus prima. Bahkan harga kancing itu sendiri terkadang bisa lebih mahal dari harga bahan atau aksesori lain.


di kutip dari : Majalah Femina edisi No.22/XXIV*6-12 Juni 1996

0 komentar:

Posting Komentar